Alfi’S Expressions

Happy to share my feelings

Benar – Betul – Baik

BENAR (bahasa Arab: haqq/bahasa Inggris: true) 

“Benar” terkait dengan fakta atau realitas atau keberadaan. Sifatnya bebas nilai.
Contoh: Bumi itu bulat; Kotoran kerbau itu bau; Gula rasanya manis; Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945.
Kebenaran itu mutlak, tapi pengetahuan manusia tentang kebenaran itu relatif karena keterbatasan ilmu manusia. Makin canggih peralatan deteksi dan makin berilmu, pengetahuan manusia tentang kebenaran akan makin mendekati fakta sebenarnya. Jadi, pernyataan “kebenaran itu relatif” sebenarnya kurang tepat, mestinya pengetahuan manusia (dalam melihat kebenaran) itu relatif.
Dulu, manusia menganggap bahwa bumi itu datar, setelah ditemukan berbagai macam peralatan deteksi, kemudian terungkap bahwa bumi itu bulat.
Tapi sayangnya, banyak juga manusia yang sok tahu, baru tahu fakta sedikit, sudah menganggap tahu fakta semuanya.
Lawan kata BENAR adalah PALSU (bathil/false) atau tidak ada.

BETUL (shahih/right)

“Betul” terkait dengan kausalitas atau sebab akibat.
Contoh: 1 + 1 = 2; Gula jika dipanaskan akan menjadi hitam; tanaman yang layu jika disiram air akan segar kembali.
Betul memerlukan pengujian apakah suatu akibat disebabkan oleh suatu sebab yang tertentu.
Lawan kata BETUL adalah SALAH (khatha’/wrong) atau KELIRU atau tidak ada hubungan sebab akibat.

 

BAIK (hasan/good) 

Baik terkait dengan konteks atau nilai.
Contoh: Kotoran kerbau baik jika digunakan untuk pupuk tanaman, tapi tidak baik jika ditaruh di wajah; Gula tidak baik dikonsumsi penderita penyakit diabetes.
Baik membutuhkan sebuah KONTEKS atau nilai untuk mengukurnya. Sesuatu yang dikatakan baik jika diukur dengan nilai atau konteks tertentu, bisa jadi buruk jika diukur dengan nilai atau konteks yang lain.
Baik mempunyai banyak spesifikasi seperti bagus, indah, cantik, nyaman, kondusif. Masing-masing berada dalam bidang yang berbeda dan diukur dengan nilai tertentu yang berbeda pula.
Lawan kata BAIK adalah BURUK (su’/bad).

Contoh:
Seorang mahasiswa mendapat nilai akhir 70. Itu adalah sebuah KEBENARAN (fakta). Tapi, apakah 70 itu BAIK atau buruk? Tergantung dosennya. Ada dosen yang menilai 70 itu masuk kategori C (cukup), tapi ada dosen lain yang menilai 70 itu masuk kategori B (baik).
Mahasiswa tersebut mengatakan bahwa dia sudah belajar sehingga mendapat nilai 70. Pernyataan ini BETUL, jika sudah diteliti bahwa mahasiswa itu memang sebelumnya belajar.

Akan aneh terdengarnya, kalau kita mengatakan “orang benar” atau “orang betul”, mestinya “orang baik” karena pada saat mengatakan ini sebenarnya kita bermaksud menilai orang tersebut dengan suatu standar (apakah hukum, aturan, kesepakatan, nilai universal, atau yang kita tetapkan sendiri).

Jadi, mau jadi “orang benar”, “orang betul”, atau “orang baik” ?

[disarikan dari berbagai sumber]

RSS 2.0 | Trackback | Comment


    Leave a Reply

    XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>