Alfi’S Expressions

Happy to share my feelings

bisnis online

Mudik Lebaran 2016 via Jalur Tengah Lintas Sumatera

    Lebaran 2016 tahun ini, saya ada kesempatan mudik ke kampung halaman di Desa Balai Gurah, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam. Sudah lebih 30 tahun ini, tidak pernah Lebaran di kampung halaman. Jatah pulang kampung biasanya pada liburan akhir tahun. Kebetulan tahun ini, Deandra, anak keempat saya akan khatam qur’an di perguruan qur’an Awwaliyah di Desa Balai Gurah, yang pelaksanaannya beberapa hari setelah Lebaran.
    Saya sekeluarga berangkat menggunakan mobil Ertiga GX merah yang sudah dua kali pulang kampung. Seperti biasa, pada kali ketiga ini, kami mengambil jalur tengah lintas sumatera. Sebenarnya, ragu juga apakah akan mengambil jalur timur atau barat. Jalur timur pernah kami lalui waktu kembali dari kampung halaman tiga tahun lalu. Pada saat itu, masih banyak jalan rusak di sekitar Way Kambas. Untuk jalur barat, kami belum pernah, walaupun menjadi keinginan saya untuk mencobanya lain kali.
    Kami berangkat hari Rabu malam, tanggal 29 Juni 2016 jam 21:00 dari rumah ibu saya di Ciputat, Tangsel.

    Jam 23:35 kami sampai di pelabuhan Merak. Jarak tempuh kl. 105 km. Sebelumnya di rest area 68 tol Tangerang – Merak, tidak sengaja kami mampir, ternyata di sana telah dibuka loket penjualan tiket kapal feri untuk kendaraan pribadi. Rupanya, untuk mengurangi kepadatan antrian pembelian tiket di pelabuhan Merak, dibuka penjualan tiket tambahan di rest area 43 dan 68 tol Tangerang – Merak. Harga tiket kapal feri untuk mobil pribadi Rp 320.000,-. Khusus bagi mobil pribadi yang telah membeli tiket kapal feri di rest area 43 atau 68 ini, ada jalur khusus pintu masuk pelabuhan Merak, yaitu di bagian paling kiri. Waktu kami tiba, antrian pembelian tiket masih belum terlalu panjang, sekitar 10-20 mobil per loket. Di loket masuk, kami diarahkan menunggu kapal di dermaga 3. Sudah cukup banyak mobil yang mengantri di dermaga 3. Rupanya kami masih harus menunggu kapal berikutnya untuk naik. Jam 01:18 pada hari Kamis, 30 Juni 2016 dinihari, baru kami naik kapal. Kapal berangkat dari pelabuhan Merak tepat jam 02:00.
    Selama di kapal, kami bisa beristirahat di ruang kelas ekonomi (gratis), atau di ruang eksekutif (lesehan atau duduk di kursi). Kami memilih beristirahat di ruang eksekutif, saya di ruang lesehan, membayar Rp 8.000, dan anak-anak di ruang duduk, membayar Rp 10.000/orang. Lumayan, saya bisa beristirahat dan tidur selama hampir 2 jam di kapal.
    Jam 03:45, kami keluar kapal dan menginjakkan ban mobil di tanah Sumatera, pelabuhan Bakauheni. Kami langsung mencari tempat yang strategis untuk makan sahur, karena kami membawa bekal yang cukup untuk sahur ini. Akhirnya, kami makan sahur di salah satu SPBU, masih di daerah Bakauheni.
    Setelah sahur dan kemudian shalat shubuh, kami langsung meneruskan perjalanan. Kondisi jalan di provinsi Lampung secara umum cukup bagus. Dari Bakauheni jalan bergelombang tapi tidak ada lubang di tengah jalan. Sayangnya, lubangnya hanya ditambal sulam, jadi kurang nyaman untuk dilalui mobil. Setelah di sekitar Kalianda, baru jalan mulus karena sudah di-hotmix. Jalan yang di-hotmix ini diselang dengan jalan tambal sulam.
    Kami beristirahat kembali di Masjid Besar At-Taqwa, Baradatu, setelah kota Bukit Kemuning (hampir sampai perbatasan Lampung – Sumsel) sekitar jam 11:15. Setiap kali mudik menggunakan mobil, kami selalu berhenti di masjid ini. Cukup banyak mobil pemudik yang berhenti di sini. Masjidnya bersih dan cukup besar. Biasanya, kami mandi di komplek masjid ini.
    Kami berangkat dari masjid di Baradatu sekitar jam 14:00. Sampai di perbatasan Lampung – Sumsel sekitar seperempat jam setelahnya. Jalan di provinsi Sumatera Selatan ini lumayan buruk, sejak ruas Baturaja – Muara Enim – Lahat – Tebing Tinggi – Lubuk Linggau, jalan banyak berlubang di tengah, dan banyak yang longsor sehingga mobil harus bergantian lewat titik itu. Ada sekitar 8 titik longsor yang kami temui.
    Kami beristirahat dan menginap di hotel Zulian, Tebing Tinggi, jam 22:00. Berangkat kembali, besok paginya, Jum’at 1 Juli 2016 jam 08:00. Jam 09:30 kami tiba di Lubuk Linggau.
    Selepas Lubuk Linggau jalan mulus kembali. Apalagi setelah masuk provinsi Jambi, jalan lurus-lurus dan mulus. Akibatnya, banyak mobil berpacu di ruas ini. Kami bisa memacu kendaraan hingga 120 km/jam bahkan sampai 140 km/jam sekali-sekali. Jalanan di provinsi Jambi kami nilai bagus.
    Perbatasan Jambi – Sumbar kami lalui jam 15:30. Masuk Sumbar, jalan kembali bergelombang. Tapi, sudah banyak ruas yang dicor beton. Sepertinya ke depan, semua jalan lintas Sumatera di Sumbar ini akan dicor beton, karena masih terlihat pengerjaannya. Secara umum jalan di Sumbar ini kami nilai cukup bagus.
    Sampai di Sijunjung sekitar jam 17:30, kami berbelok ke kanan, ke arah kota Batusangkar, melingkari gunung Marapi di sebelah Timurnya menuju Baso. Pertimbangan mengambil jalur ini, karena perkiraan kami, jalur Solok – Danau Singkarak – Padang Panjang – Bukittinggi pasti macet. Setelah berbuka puasa di Sijunjung, kami melanjutkan perjalanan ke Batusangkar, tiba di Batusangkar sekitar jam 20:00. Lanjut mengelilingi gunung Marapi ke arah Baso, terus ke Biaro dan berbelok ke kampung kami di Desa Balai Gurah. Sampai di kampung tepat jam 21:00.
    Alhamdulillaah, 1.572 km telah kami tempuh dengan selamat selama 48 jam tepat. Jarak sedemikian memerlukan bensin Pertalite sekitar Rp 600.000 atau 85 liter. Itupun tangki bensin masih terisi lebih setengahnya ketika kami tiba di kampung.

    Penilaian kami atas kondisi jalan di jalur tengah lintas Sumatera:
    1. Jambi mempunyai jalan yang bagus
    2. Sumbar jalannya lumayan bagus
    3. Lampung jalannya cukup bagus
    4. Jalan di Sumsel kami nilai cukup buruk

    Kota-kota yang kami lalui:
    1. Ciputat – Merak 105 km
    2. Bakauheni – Kalianda 29 km
    3. Kalianda – Bandarlampung 70 km
    4. Bandarlampung – Bandarjaya 57 km
    5. Bandarjaya – Kotabumi 46 km
    6. Kotabumi – Bukit Kemuning 56 km
    7. Bukit Kemuning – Baradatu 20 km
    8. Baradatu – Martapura 69 km
    9. Martapura – Baturaja 28 km
    10. Baturaja – Tanjung Enim 57 km
    11. Tanjung Enim – Muara Enim 14 km
    12. Muara Enim – Lahat 40 km
    13. Lahat – Tebing Tinggi 80 km
    14. Tebing Tinggi – Muara Beliti 53 km
    15. Muara Beliti – Lubuk Linggau 12 km
    16. Lubuk Linggau – Muara Rupit 81 km
    17. Muara Rupit – Singkut 27 km
    18. Singkut – Sarolangun 35 km
    19. Sarolangun – Bangko 75 km
    20. Bangko – Muaro Bungo 78 km
    21. Muaro Bungo – perbatasan Jambi dan Sumbar 62 km
    22. Perbatasan Jambi dan Sumbar – Gunung Medan 33 km
    23. Gunung Medan – Desa Balaigurah 197 km
    Total sekitar 1.572 km.

    RSS 2.0 | Trackback | Comment


    Leave a Reply

    XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>