Tuhan Tidak Bisa Dibuktikan Secara Ilmiah
Saya sering mendengar kalimat ini.
Sekilas terdengar masuk akal. Tetapi semakin saya pikirkan, justru ada satu kata yang terasa bermasalah:
“ilmiah”.
Apa sebenarnya yang kita maksud dengan ilmiah?
Kata ilmiah berasal dari kata ilmu. Karena itu, secara makna, sesuatu yang ilmiah seharusnya berkaitan dengan pengetahuan yang diperoleh melalui metode tertentu dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai metode tersebut.
Masalahnya, dalam penggunaan bahasa Indonesia hari ini, kata ilmiah sering dipersempit seolah-olah sama dengan scientific.
Padahal science atau sains bukan keseluruhan wilayah ilmu.
Sains adalah salah satu cara memperoleh pengetahuan, terutama melalui observasi, pengukuran, eksperimen, pengujian, dan pembuktian empiris.
Kalau digambarkan secara sederhana:
Sains ⊂ Ilmiah

Sains merupakan himpunan bagian dari wilayah keilmuan, bukan keseluruhan dari seluruh cara manusia memperoleh pengetahuan.
Dalam tradisi intelektual Islam, misalnya, dikenal beberapa pendekatan epistemologis.
Ada bayani, yang bekerja melalui teks, bahasa, dan petunjuk wahyu.
Ada burhani, yang bekerja melalui argumentasi, logika, dan demonstrasi rasional.
Ada pula irfani, yang berbicara tentang pengetahuan melalui pengalaman dan penghayatan langsung.
Dan science/sains lebih dekat kepada burhani.
Ini bukan berarti bayani, burhani, dan irfani masing-masing adalah “sepertiga ilmu”.
Bukan itu maksudnya.
Yang ingin saya tekankan adalah bahwa manusia tidak memperoleh seluruh pengetahuan melalui satu metode yang sama.
Kalau saya ingin mengetahui kadar gula darah, saya menggunakan metode empiris dan alat ukur.
Kalau saya ingin mengetahui apakah sebuah argumen benar secara logis, saya menggunakan penalaran.
Kalau saya ingin memahami makna sebuah teks, saya harus memeriksa bahasa, struktur, konteks, dan hubungan antarbagian teks.
Metode harus sesuai dengan objek yang sedang dikaji.
Karena itu, saya mulai melihat ada masalah ketika orang mengatakan:
“Tuhan tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.”
Kalimat ini sebenarnya ambigu.
Kalau yang dimaksud adalah:
“Keberadaan Tuhan tidak dapat diverifikasi secara langsung dengan metode sains empiris,”
saya bisa memahami maksudnya.
Tetapi kalimat itu sangat berbeda dengan mengatakan:
“Tuhan tidak dapat diketahui secara ilmiah.”
Sebab “tidak dapat diuji dengan metode sains” tidak otomatis berarti:
tidak dapat diketahui,
tidak dapat dibahas secara rasional,
tidak dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan,
apalagi otomatis berarti tidak ada.
Di sinilah menurut saya terjadi kerancuan bahasa sekaligus kerancuan epistemologi.
Kita terlalu mudah menyamakan:
ilmiah = scientific = empiris.
Padahal ketiganya tidak selalu identik.
Sains memiliki wilayah kerja yang sangat kuat, tetapi juga memiliki batas metodologis.
Sains dapat menguji sesuatu yang dapat diamati, diukur, dimodelkan, dan diuji secara empiris.
Tetapi kalau sebuah objek berada di luar wilayah pengukuran empiris, ketidakmampuan metode sains untuk mengujinya bukan otomatis menjadi bukti bahwa objek tersebut tidak ada.
Sederhananya:
Tidak dapat dibuktikan oleh metode X ≠ tidak dapat diketahui sama sekali.
Mikroskop tidak dapat mendeteksi gelombang radio.
Bukan berarti gelombang radio tidak ada.
Alat dan metode memang memiliki wilayah kerjanya masing-masing.
Karena itu, mungkin kita perlu lebih berhati-hati menggunakan kata “ilmiah”.
Alih-alih mengatakan:
“Tuhan tidak dapat dibuktikan secara ilmiah,”
mungkin lebih presisi mengatakan:
“Keberadaan Tuhan tidak dapat diverifikasi secara langsung dengan metode sains empiris.”
Kelihatannya hanya berbeda beberapa kata.
Tetapi secara epistemologis, konsekuensinya sangat besar.
Pertanyaan yang menurut saya jauh lebih menarik justru bukan:
“Apakah Tuhan bisa dibuktikan secara ilmiah?”
melainkan:
“Apakah seluruh jenis pengetahuan manusia harus dibuktikan dengan satu metode yang sama?”
Dan mungkin pertanyaan berikutnya lebih penting lagi:Apakah selama ini kita terlalu mudah menyamakan “ilmiah” dengan “sains”?
