Alfi’S Expressions

Happy to share my feelings

Jalan-jalan ke Kebun Binatang

Rencananya Senin, 7 Juli 2008 setelah selesai semua acara khatam Qur’an, saya ingin sekalian menyunatkan Badar, anak kedua saya. Semester lalu dia pernah setuju mau disunat, tapi ternyata berubah lagi, takut tampaknya. Sekarang, ada momen bagus setelah khataman, dan tampaknya dia agak setuju. Agar lebih gembira lagi, sebelum disunat dia dan kakak-adiknya serta mamanya mau diajak jalan-jalan dulu ke kota Bukittinggi. Kalau ke kota ini, tujuan wisata biasanya keliling pasar atas dan pasar bawah untuk wisata kuliner, atau keliling jam gadang, atau ke panorama melihat Ngarai Sianok, atau ke Kebun Binatang Taman Bundo Kandung.

Dari pilihan itu, kami sepakat untuk ke Kebun Binatang dan pulangnya wisata kuliner di pasar atas. Kami pergi bertujuh, empat anak, mama dan papanya, serta nenek naik angkot PALB (palebe) dari kampung kami, Balai Gurah ke simpang Mandiangin Bukittinggi, ongkosnya Rp 4.000/orang. Dari situ kami naik bendi/delman ke Kebun Binatang dengan rute pasar bawah, jam gadang, pasar atas, kebun binatang. Setelah tawar menawar kami setuju ongkos delman Rp 25.000.


Tiket masuk kebun binatang Taman Bundo Kandung Rp 5.000 perorang untuk hari selain Sabtu Ahad, sudah sekaligus tiket masuk ke lokasi benteng Fort de Kock yang letaknya di bukit seberang. Untuk mencapai benteng tersebut, kita harus melintasi jembatan Limpapeh, jembatan gantung yang menghubungkan bukit kebun binatang dengan bukit benteng. Tidak lupa anak-anak membeli seplastik kacang sangrai untuk oleh-oleh para binatang.

Berkeliling di kebun binatang, anak-anak sangat menikmati pesona binatang-binatang yang ada: aneka burung, gajah, tapir, beruang madu, monyet, orang utan, dan unta. Tapi, beberapa kandang tampak kosong: harimau, singa, buaya, ular, dan akuarium ikan. Dulu, ini merupakan binatang-binatang yang wajib dikunjungi, entah kenapa sekarang tidak ada, tidak ada petugas yang bisa ditanyai. Mungkin juga mati karena kurang perawatan. Beberapa kandang juga tidak ada informasi mengenai nama binatangnya, atau nama family/spesiesnya.

Ketika melewati kandang monyet dan orang utan, kami mencoba memberi makan binatang tersebut dengan kacang yang kami beli tadi, tapi koq tidak disentuh? kami lihat banyak kacang berserakan tidak disentuh binatang itu. Iseng-iseng kami coba satu biji, ternyata memang tidak ada rasanya, tawar dan hambar, pantas saja monyet-monyet tersebut tidakmau menyentuhnya :-(.

Selepas melihat-lihat binatang, kami menyeberangi jembatan gantung limpapeh menuju benteng Fort de Kock, benteng kecil peninggalan Belanda, yang berada di bukit seberang. Jembatan Limpapeh ini berada di atas jalan A. Yani. Di sini anak-anak berkesempatan naik kuda keliling areal benteng dengan ongkos Rp 5.000 peranak untuk dua putaran. Tidak banyak yang bisa dilihat di sini, di antaranya pemandangan ke bawah ke arah kota Bukittinggi.

Puas berkuda di benteng, kami kembali ke kebun binatang dan menuju pasar atas untuk mencari makan siang. Anak-anak dan mamanya makan soto, sedangkan papa dan nenek makan nasi kapau. Selesai makan, kami turun ke pasar bawah melewati jenjang 40, yang kalau dihitung sebenarnya lebih dari 100 anak tangga. Sampai di bawah, kami mampir di toko Serbu (Serba Lima Ribu), untuk mengalihkan perhatian anak-anak yang ingin membeli mainan di depan Kebun Binatang tadi. Dari nama tokonya, kami kira isinya barang-barang yang harganya lima ribu rupiah, tapi ternyata itu hanya nama tokonya saja, jualannya sih berbagai macam harga :-(.

Pulangnya kami ingin naik taksi saja biar praktis, kebetulan di bawah jenjang 40 ada taksi mangkal. Kami coba menawar harga sewa taksi sampai ke rumah, karena di Bukittinggi taksi tidak ada yang berargo – biasanya sistem tawar. Ketika harga hampir sepakat, datang seorang laki-laki yang memarahi sopir taksi tadi karena mangkal di depan dua buah taksi berwarna biru yang tampaknya sejak tadi belum dapat penumpang. Dia meminta kami untuk naik salah satu taksi biru itu. Ketika saya lihat taksinya sudah bobrok, tentu saja saya menolak, saya bebas donk memilih taksi. Rupanya sopir taksi yang kami tawar tadi tidak berani dan tidak mau membawa kami. Ya sudah, kami pergi saja, harga sewa sama kenapa kami harus naik taksi bobrok ?

Untunglah, walaupun harus berjalan agak jauh akhirnya kami mendapat taksi sesuai dengan keinginan. Lumayan juga ongkosnya, dari Bukittinggi ke Talago Balai Gurah Rp 45.000 !

RSS 2.0 | Trackback | Comment


    4 Responses to “Jalan-jalan ke Kebun Binatang”


    1. wah ko belum ada artikelnya? pengen juga nih ngajak anak jalan-jalan ke kebun binatang, dari sukabumi mending ke jakarta or bandung ya?


    2. nah, sekarang dah ada tuh artikelnya…
      dah jadi blom ke kebun binatangnya ?
      mending ke jakarta deh, lebih lengkap ……

    3. roni

      Kalo mau jalan jalan ke Bukittinggi, silakan hubungi :
      PT, MUHIBBAH MULIA WISATA
      Jl. Urip SUmoharjo No.3 Bukittinggi – Sumatera Barat
      Telp. 0752 32999
      Fax. 0752 32999
      email / Ym : muhibbahbkt@yahoo.com
      Mobile : 081363408670 ( Roni )

      Kita bisa handle tour untuk group atau perseorangan dengan harga murah


    4. Sangat menarik posting, thanks for the information, akan kembali ke situs Anda sering:)

    Leave a Reply

    XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>