Alfi’S Expressions

Happy to share my feelings

Pantura Jawa Barat Macet Selalu

Sebulan sekali minimal, saya menengok ibu di Ciputat, Banten. Jalur perjalanan favorit saya adalah jalur pantura (pantai utara jawa). Keluar dari Haurgeulis menuju Patrol, belok ke Timur menyusuri jalur pantura. Dengan adanya pembatas antarjalur dan lebar dua lajur di setiap jalur, memang melintasi pantura terasa lebih cepat, nyaman, dan aman dibanding jalur selatan, misalnya.

Tapi, kenyamanan itu sering terganggu akhir-akhir ini karena perbaikan jalan.

Tidak ada yang salah dengan perbaikan jalan, bahkan memang sudah seharusnya begitu karena pantura merupakan jalan nasional, tapi perilaku pengguna jalan dalam menghadapi perbaikan jalan ini yang membuat lalu lintas pantura menjadi tidak nyaman.

Biasanya, di jalan-jalan yang sedang diperbaiki, jalan yang tadinya dua lajur masing-masing arah (jalur) dipersempit menjadi satu lajur untuk setiap arah. Kalau saja pengguna jalan mau sedikit antri dan sabar menunggu giliran untuk melewati jalan satu lajur tersebut, saya kira paling lama hanya menunggu setengah jam, sudah lancar lagi. Tapi, biasanya kendaraan-kendaraan yang mengejar setoran sangat tidak sabaran, jalur dari arah berlawanan yang masih kosong (karena pengguna masih mengantri di sebelah sana) diserobot juga sehingga yang seharusnya hanya dua lajur yang boleh digunakan, menjadi 4 lajur. Akibatnya, lalu lintas matot alias macet total, kendaraan dari dua arah tidak bisa bergerak sama sekali. Yang seharusnya hanya menunggu sekitar setengah jam, dengan kondisi ini bisa satu hingga dua jam.

Kembali dari Jakarta, keesokan paginya, saya masuk jalur pantura selepas tol Cikampek sekitar jam 04.00. Karena saya pikir masih pagi, kemungkinan lalu lintas tidak akan sepadat kemarin terutama ketika melintasi jalan-jalan yang dipersempit. Ternyata, saya lupa mempehitungkan bahwa jam-jam seperti ini adalah jam bus malam dari Jawa Tengah/Timur memasuki pantura Jawa Barat. Setelah setengah jam lepas dari tol, kembali lagi saya terjebak macet. Dalam pikiran saya, pasti jalur arah Jakarta di depan saya penuh oleh bus-bus malam yang tidak mau mengalah sehingga kedua jalur macet total. Tidak mau ambil resiko telat, saya balik arah kembali ke Cikampek dan memilih melalui jalur selatan. Alhamdulillaah, jalur selatan masih kosong, hanya kurang dari dua jam saya sudah sampai kembali di rumah.

Yah begitulah mental pengguna jalan di negara kita ini. Entah karena SIM-nya SIM tembak atau memang tidak peduli dengan orang lain, peraturan lalu lintas yang ada hanya menjadi pajangan atau tulisan indah saja. Mudah-mudahan, mereka semua cepat sadar deh….

RSS 2.0 | Trackback | Comment


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>