Alfi’S Expressions

Happy to share my feelings

bisnis online

Malam Lailatul Qadar

Tadi malam, Ramadlan malam ke-25 (versi Muhammadiyah dan Saudi Arabia) atau malam ke-24 (versi Pemerintah RI), ada yang memperhatikan tanda-tanda alam?

Setelah ‘Isya saya perhatikan udara tenang, angin tidak bertiup, pohon-pohon diam. Sampai tengah malam suasana tidak berubah, bahkan sampai pagi. Pagi hari ketika matahari terbit, walaupun cuaca cerah dan tidak ada awan tapi sinar matahari tampak redup, tidak menyengat. Menurut banyak dalil, ini cocok dengan tanda-tanda berlangsungnya malam Lailatul Qadar. Saya cek kepada teman saya yang tinggal di Cirebon, ternyata suasananya sama, apakah Anda juga mengalami hal yang sama? Bagaimana pendapat Anda?

Kalau merujuk kepada metode penentuan awal bulan Muhammadiyah (metode wujudul hilal), saya sebenarnya tidak setuju. Saya setuju kepada metode rukyatul hilal, di mana yang menjadi rujukan adalah “keterlihatan hilal” bukan “adanya hilal” karena begitulah yang diterangkan dalam dalil-dalil. Tapi, ketika melihat tanda-tanda malam Lailatul Qadar semalam, saya jadi bertanya-tanya, jangan-jangan benar metode wujudul hilal?

Tapi setelah saya perhatikan lebih seksama, ada satu dalil lagi yang digunakan untuk menentukan awal bulan di suatu tempat, yaitu apabila di salah satu tempat di bumi sudah dapat melihat hilal (rukyatul hilal) maka di semua belahan bumi yang lain sudah masuk bulan baru. Pendapat ini disepakati sebagian ulama, tetapi sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa hilal harus dilihat juga di tempat itu, baru masuk bulan baru.

Jika kita melihat Islam sebagai “agama” yang “tunduk” pada “penguasa” (baca: negara) setempat, maka pendapat ulama yang kedualah yang lebih tepat. Tetapi, kalau kita melihat Islam sebagai “din” yang seharusnya “ditaati” oleh penguasa/negara di seluruh dunia, maka pendapat ulama yang pertama yang lebih tepat. Kalau saya pribadi berpendapat konsep utama Islam itu adalah tauhid, maka seharusnya pemahaman ajaran Islam di seluruh dunia ini harus menyatu. Demikian pula dengan penetapan bulan baru, jika sudah ada penduduk bumi yang melihat hilal, maka penduduk bumi yang lain harus mengikuti.

Masalahnya sekarang, siapa/di mana di muka bumi ini yang disepakati sebagai “pusat” rujukan Islam, sehingga semua ummat Islam di seluruh dunia bisa taat dan menyatu (tauhid) ?

    RSS 2.0 | Trackback | Comment


    Leave a Reply

    XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>