Alfi’S Expressions

Happy to share my feelings

bisnis online

Sekolah Membuat Macet Jalan Raya

Sekolah mestinya menjadi tempat pertama (setelah rumah) untuk belajar. Belajar mengetahui dan menerapkan hal-hal yang baik. Bagaimana jika ternyata sekolah justru menjadi tempat pertama yang mengajarkan ketidakdisiplinan, kesewenang-wenangan ?

Hal ini terjadi dan selalu saya lihat setiap pagi (jam masuk sekolah) dan siang menjelang sore (jam keluar sekolah) di salah satu sekolah ternama D**** H**** di kawasan Dago. Jam-jam seperti itu jalan raya Dago pasti macet. Sebab utamanya adalah parkir mobil penjemput siswa yang semrawut. Jalan raya dua lajur, dipangkas menjadi satu lajur karena satu lajur paling pinggir digunakan untuk parkir ilegal.

Saya tidak pernah melihat tukang parkir resmi yang berseragam mengatur perparkiran di situ. Yang ada hanya tukang parkir liar yang tidak berseragam. Setahu saya tukang parkir resmi di Bandung cukup disiplin, karena selalu dipantau oleh polisi lalu lintas setempat. Jika ada parkir yang semrawut, kartu sebagai anggota tukang parkir akan disita oleh polisi dan mereka harus mengikuti penataran lagi. Dengan tidak adanya tukang parkir resmi, semakin berantakanlah pengaturan parkir di daerah tersebut.

Macet

Macet (dilihat dari dalam angkot)

Yang menjadi keprihatinan saya, kondisi ini terjadi di depan sekolah dan disebabkan oleh komponen sekolah yaitu murid dan orang tua/wali murid, dan mungkin saja juga gurunya. Mobil-mobil yang menjemput murid dengan seenaknya parkir di tengah jalan menutup satu lajur di setiap jalur. Ke arah utara macet, ke arah selatan juga macet. Dua lajur saja untuk setiap jalur kendaraan sudah berjalan pelan karena lalu lintas cukup padat, diperparah lagi dengan berkurangnya satu lajur.

Macet juga

Mobil diparkir seenaknya mengambil satu lajur jalan raya

Mestinya, sekolah menjadi pelopor yang memberi contoh kepada masyarakat bagaimana berdisiplin, termasuk berlalu lintas. Padahal semboyan sekolah itu cukup keren: Berakhlak dan Berprestasi. Di mana akhlak berlalu lintasnya ? Apakah disiplin berlalu lintas dalam hal ini perparkiran tidak termasuk akhlak ?

Macet lagi

Satu lajur disita oleh mobil yang diparkir seenaknya

Sedari kecil sudah diajari seenaknya, sewenang-wenang, mentang-mentang punya mobil merasa berhak untuk parkir di sembarang tempat, bagaimana kalau sudah besar nanti?

Memupuk mental malas, malas untuk jalan kaki sedikit, karena parkir agak jauh dari sekolah demi menjaga ketertiban dan kenyamanan umum, bukankah akan bertambah malas jika sudah besar nanti?

Macet ya?

Dari arah yang berlawanan juga macet karena jalan raya di dua jalur disita satu lajurnya untuk parkir ilegal

Mari kita renungi bersama, apakah model pendidikan seperti ini yang kita mau? Pendidikan yang hanya berlaku di ruang kelas, tapi tidak bisa diterapkan di luar kelas, di kehidupan sehari-hari? Pendidikan yang jauh mengawang-awang, jauh dari bumi?

Mohon maaf untuk pihak-pihak yang merasa tersinggung, saya sebagai guru ikut merasa bertanggung jawab terhadap pendidikan anak bangsa Indonesia. Bagaimana kalau kita perbaiki bersama-sama?

RSS 2.0 | Trackback | Comment


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>